Abstract
This study analyzes Indonesian cultural policy from 2007 to 2019, focusing on implementation, public response, and its impact on international relations. Culture is positioned as strategic for identity, heritage awareness, and diplomacy. Using a qualitative descriptive-historical approach with written, visual, online, and interview sources, findings show that cultural claims encouraged both reactive and proactive measures. The government accelerated UNESCO registrations of Batik (2009), Angklung (2010), and Wayang (2003) to gain legitimacy. Legal frameworks were strengthened through Law No. 11/2010 on Cultural Heritage and Law No. 5/2017 on Cultural Advancement. Internationally, the Indonesian Cultural House (RBI) program became a soft power instrument, involving the diaspora and enhancing diplomacy. Hence, cultural claims act as both challenges and catalysts for sovereignty, regulation, and global cultural strategy.
References
Ab Ghani, R., & Paidi, Z. (2010). Malaysia-Indonesia: Pengalaman hubungan dua negara serumpun. Institute of Tun Dr. Mahathir Mohamad’s Thoughts, Universiti Utara Malaysia.
Adryamarthanino, V. (2022). Sejarah migrasi orang Jawa ke Malaysia. Kompas.com. Retrieved from https://www.kompas.com/stori/read/2022/10/24/070000279/sejarah-migrasi-orang-jawa-ke-malaysia
Adryan, G. A. (2023). Diplomasi publik antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1985–1998: Menelaah program “Titian Muhibah” (Thesis, Universitas Pelita Harapan).
Ardanareswari, I. (2020). Sejarah buruh migran Jawa di perkebunan swasta Malaya abad ke-19. Tirto.id. Retrieved from https://tirto.id/sejarah-buruh-migran-jawa-di-perkebunan-swasta-malaya-abad-ke-19-fNue
Dhalymardha, D. P. (2023). Dampak diplomasi kebudayaan Indonesia melalui Rumah Budaya Indonesia di Belgia tahun 2019–2022 (Thesis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta).
Effendi, T. D. (2013). Diplomasi publik sebagai pendukung hubungan Indonesia-Malaysia. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 9(1), 37–52. https://doi.org/10.26593/jihi.v9i1.625
Hamid, A. R. (2011). Pengantar Ilmu Sejarah. Ombak.
Hasanah, U., Magfirah, R., Setiawati, A., & Nurhasanah. (2024). Menelusuri kontroversi klaim budaya perspektif Indonesia-Malaysia dalam sengketa warisan budaya. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(2), 2505–2513. https://doi.org/10.54373/imeij.v5i2.1065
Heryanto, A. (2008). Budaya populer di Indonesia: Mencairnya identitas pasca-Orde Baru. Kepustakaan Populer Gramedia.
Republik Indonesia (1992). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Kita, Y. H. (1995). Taman Mini Indonesia Indah: Miniatur Keindahan Nusantara. Yayasan Harapan Kita.
Kleden, I. (2000). Kebudayaan dan kekuasaan di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 4(1).
Kobokanaeru. (2023). Orang Malaysia keturunan Indonesia. Wikipedia. Retrieved from https://id.wikipedia.org/wiki /Orang_Malaysia_keturunan_Indonesia
Lestari, S. G., Sari, S., & Panorama, A. D. (2025). Nation branding Indonesia dalam meningkatkan kunjungan wisatawan dari Malaysia ke Indonesia 2019–2023. Global Insights Journal: Jurnal Mahasiswa Hubungan Internasional, 2(1). https://doi.org/10.36859/gij.v2i1.2772
Maksum, A., & Bustami, R. (2014). Ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia dalam isu tarian Pendet. Kajian Malaysia: Journal of Malaysian Studies, 32(2). Retrieved from https://repository.umy.ac.id/bitstream/handle /123456789/2215/KM%2032(2)%202014%20-%20Art.%203.pdf?sequence=1
Malihah, E. (2017). Membangun kesepahaman budaya Indonesia dan Malaysia menuju masyarakat berwawasan global. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 1(1). https://doi.org/10.17509/sosietas.v1i1.1108
Manaf, A. A. (2001). Sejarah sosial masyarakat Malaysia. Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd.
Megawati. (2002). Pidato Presiden Megawati pada Sidang Paripurna DPR RI.
Pantow, R. F. M., Aniss, F. H., & Karamoy, R. (2024). Perlindungan hukum terhadap budaya tradisional Indonesia yang diklaim oleh Malaysia menurut hukum internasional. Lex Crimen, 12(4). Retrieved from https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lexcrimen/article/view/58850
Paryana, S. (2022). Upaya pelestarian situs cagar budaya Loyang Mendale di Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah (Thesis, UIN Ar-Raniry Fakultas Adab dan Humaniora).
Redaksi. (2024, Juni 5). Moment dan program Bukittinggi: Kota kembar Bukittinggi–Seremban tinggal tugu. Reportase Investigasi. Retrieved from https://reportaseinvestigasi.com/moment-dan-program-bukittinggi-kota-kembar-bukittinggi-seremban-tinggal-tugu/
Roy, H. (2021). Kontestasi pandangan budaya dalam sejarah kongres kebudayaan di Indonesia. Saskara: Indonesian Journal of Society Studies, 1(1), 67–94. https://doi.org/10.21009/Saskara.011.04
Salsabilla, S. (2024). Perlindungan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya berdasarkan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Jurnal Syntax Admiration, 5(6), 2113–2127. https://doi.org/10.46799/jsa.v5i6.1219
Shamad, I. A. (2003). Ilmu sejarah: Perspektif metodologis dan acuan penelitian. Hayfa Press.
Suhardi. (2012). Lagi Malaysia klaim budaya. Pontianak Post.
Sunarti, L. (2013). Menelusuri akar konflik warisan budaya antara Indonesia dengan Malaysia. Sosiohumanika: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, 6(2). https://10.2121/sosiohumanika.v6i1.482
Tahiru, M. F., Sondakh, J., & Ngantung, C. M. (2023). Perlindungan cagar budaya menurut Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2022. Lex Privatum, 12(1). Retrieved from https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexprivatum /article/view/49307
Tanjung, J., & Iskandar, I. (2020). Diplomasi kebudayaan Indonesia terhadap Malaysia melalui Rumah Budaya Indonesia. JOM FISIP, 7(1). Retrieved from https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/29168
Wahyuni, S. (2004). Perlindungan warisan budaya di Indonesia: Antara hukum dan realitas. Jurnal Hukum & Pembangunan, 34(1).
Zed, M. (2013). Metode Penelitian Sejarah. Universitas Negeri Padang.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Copyright (c) 2025 Abrar Halim, Wannofri Samry, Anatona Anatona
